Catatan Perjalanan, Integritas, dan Pengabdian di Dunia Pers
MardataNews. Com-Dunia pers bukan sekadar ruang kerja bagi mereka yang memilih profesi wartawan. Ia adalah medan pengabdian, tempat nilai-nilai kebenaran, keberanian, dan kejujuran diuji setiap hari. Di tengah derasnya arus informasi, kepentingan kekuasaan, dan tekanan ekonomi media, hanya mereka yang memiliki keteguhan prinsip yang mampu bertahan dan tetap berdiri di sisi kepentingan publik.
Profil ini merekam perjalanan seorang wartawan daerah yang memilih setia pada nilai-nilai tersebut. Syafrial Suger, yang akrab disapa Herry Suger, seorang jurnalis yang telah mengabdikan lebih dari dua dekade hidupnya untuk dunia pers, menjalani profesi ini bukan sebagai batu loncatan, melainkan sebagai jalan hidup.
Buku profil ini bukan sekadar rangkuman biodata atau daftar prestasi, tetapi sebuah catatan reflektif tentang proses panjang menjadi wartawan, dinamika liputan, pergulatan batin, serta komitmen menjaga martabat profesi di tengah perubahan zaman.
*Biodata Singkat dan Akar Kehidupan**
Nama lengkapnya Syafrial Suger. Ia lahir pada 10 September 1968 di Sungai Geringging, sebuah wilayah pesisir di Sumatera Barat yang dikenal dengan kesederhanaan hidup masyarakatnya, kekuatan nilai adat Minangkabau, serta ikatan sosial yang kuat antarwarga.
Lingkungan tempat ia tumbuh bukanlah kawasan urban dengan fasilitas lengkap, melainkan ruang sosial yang membentuk karakter melalui kebersamaan, kerja keras, dan keteguhan moral. Nilai-nilai inilah yang kelak menjadi fondasi kuat dalam perjalanan hidupnya sebagai wartawan.
Saat ini, Syafrial Suger berdomisili di Pariaman, Sumatera Barat. Dari kota pesisir inilah ia menjalankan aktivitas jurnalistik sehari-hari, dengan wilayah liputan utama meliputi Kabupaten Padang Pariaman dan sekitarnya. Ia aktif bekerja di media cetak dan digital, mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan prinsip dasar jurnalistik.
Selama lebih dari dua puluh tahun, ia telah menjadi saksi dan pelaku perubahan dunia pers: dari masa dominasi media cetak, transisi menuju media daring, hingga era media sosial yang menuntut kecepatan sekaligus ketepatan.
*Keluarga Bhayangkara dan Pembentukan Karakter**
Syafrial Suger tumbuh dalam keluarga Bhayangkara. Ayahnya adalah anggota Kepolisian Republik Indonesia, sementara ibunya adalah seorang ibu rumah tangga yang mendedikasikan hidup sepenuhnya untuk keluarga.
Dari ayah, ia belajar arti disiplin, tanggung jawab, dan ketegasan dalam bersikap. Nilai-nilai ini tertanam sejak dini dan membentuk kebiasaannya untuk menghargai waktu, memegang komitmen, serta bertindak berdasarkan aturan dan etika.
Dari ibunya, ia menyerap nilai-nilai ketulusan, kesabaran, empati, dan kemanusiaan. Sang ibu mengajarkan bahwa hidup bukan hanya tentang ketegasan, tetapi juga tentang memahami sesama dan menjaga hati nurani.
Perpaduan dua nilai inilah—ketegasan dan empati—yang kemudian menjadi ciri khas pendekatan jurnalistik Syafrial Suger: tegas dalam fakta, namun manusiawi dalam penyampaian.
*Riwayat Pendidikan dan Awal Kecintaan pada Dunia Tulis**
Pendidikan formal Syafrial Suger dimulai di Sekolah Dasar Negeri Sungai Limau, lalu berlanjut ke Sekolah Menengah Pertama Negeri dan Sekolah Menengah Atas Negeri di wilayah yang sama.
Selama masa sekolah, ia dikenal sebagai siswa yang aktif, terutama dalam kegiatan Pramuka. Pramuka tidak hanya mengajarkan baris-berbaris atau kegiatan alam, tetapi juga membentuk kepemimpinan, kerja sama, keberanian mengambil keputusan, serta kepedulian sosial.
Pada masa SMA, benih kecintaan terhadap dunia tulis-menulis mulai tumbuh. Ia aktif mengisi majalah dinding (mading) dan terlibat dalam penerbitan buletin sekolah. Dari aktivitas sederhana inilah ia belajar menyusun kalimat, merangkai informasi, dan menyampaikan gagasan kepada pembaca.
Menulis, bagi Syafrial muda, bukan sekadar tugas sekolah, melainkan sarana mengekspresikan pandangan dan membaca realitas sekitar.
*Merantau ke Jakarta: Titik Balik Kehidupan**
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Syafrial Suger mengambil keputusan besar: merantau ke Jakarta. Keputusan ini menjadi titik balik penting dalam hidupnya.
Di Jakarta, ia bekerja di Lembaga Pendidikan “YAI” Kelapa Gading. Sambil bekerja, ia mulai berkenalan lebih dekat dengan dunia pers. Ia aktif berkontribusi pada media cetak mingguan lokal, belajar langsung dari praktik lapangan tentang bagaimana berita dilahirkan.
Jakarta mengajarkannya banyak hal: kerasnya persaingan, pentingnya jejaring, dan tuntutan profesionalisme. Di kota inilah idealisme jurnalistiknya mulai diuji dan ditempa.
*Awal Menjadi Wartawan Profesional**
Tahun 1997 menjadi tonggak penting. Syafrial Suger memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya di Lembaga Pendidikan YAI dan fokus sepenuhnya menekuni dunia jurnalistik.
Keputusan ini bukan tanpa risiko. Pada masa itu, menjadi wartawan bukanlah profesi yang menjanjikan kestabilan ekonomi. Namun, idealisme dan panggilan nurani jauh lebih kuat daripada pertimbangan materi.
Ia merasakan langsung kerasnya kehidupan wartawan lapangan:
mengejar narasumber, menulis di tengah keterbatasan fasilitas, dan berpacu dengan tenggat waktu.
Tidak lama kemudian, ia diterima sebagai koresponden junior Majalah Fakta, media cetak yang berkantor pusat di Surabaya, dengan wilayah tugas Jakarta. Di sinilah ia belajar standar kerja media nasional, persaingan antarwartawan, serta pentingnya akurasi dan kecepatan.
*Kembali ke Kampung Halaman dan Mengabdi di Daerah**
Pada tahun 2002, Syafrial Suger memutuskan kembali ke Sumatera Barat. Ia membawa Majalah Fakta sebagai koresponden daerah, sebuah langkah yang ia ambil demi keluarga dan keinginan berkontribusi langsung bagi daerah asal.
Keputusan ini menandai babak baru: menjadi wartawan daerah dengan segala keterbatasan, namun juga dengan kedekatan emosional terhadap masyarakat.
Tahun 2004, ia bergabung dengan Tabloid Publik, media lokal, dan ditugaskan meliput Kabupaten Padang Pariaman. Ia meliput berbagai peristiwa: kriminal, kecelakaan lalu lintas, pemerintahan daerah, hingga isu-isu sosial yang kerap luput dari perhatian media besar.
Periode ini berlangsung hingga 2012, menjadi fase pembentukan karakter profesionalnya sebagai wartawan daerah yang tangguh.
*Koordinator Daerah dan Peran Kepemimpinan**
Pada tahun 2013, Syafrial Suger bergabung dengan Harian Khazanah. Ia dipercaya menjabat sebagai Koordinator Daerah, posisi yang ia emban hingga 2025.
Dalam peran ini, ia tidak hanya menulis berita, tetapi juga:
• mengoordinasikan liputan,
• membina wartawan muda,
• menjaga kualitas dan etika pemberitaan.
Baginya, kepemimpinan dalam redaksi bukan soal jabatan, melainkan tanggung jawab moral untuk memastikan informasi yang sampai ke publik tetap akurat dan berimbang.
*Liputan Berkesan: Konflik Agraria di Pasaman**
Salah satu liputan paling berkesan adalah konflik agraria di Kabupaten Pasaman. Ia tinggal bersama warga selama beberapa hari, mendengarkan langsung keluhan mereka, dan menyaksikan ketimpangan yang terjadi.
Ia tidak hanya mencatat fakta, tetapi juga menyerap emosi dan harapan masyarakat. Liputan tersebut mendorong dialog antara warga, pemerintah, dan perusahaan.
Pengalaman ini mengukuhkan keyakinannya bahwa wartawan adalah penyambung suara mereka yang tak terdengar.
*Suka Duka Profesi Wartawan**
Menjadi wartawan berarti siap menghadapi intimidasi, tekanan, bahkan ancaman. Syafrial Suger pernah mengalami semua itu, terutama saat meliput kasus sensitif.
Namun, kepuasan batin saat tulisan mampu membuka mata publik jauh lebih besar daripada rasa takut.
*Organisasi Profesi dan Kompetensi**
Syafrial Suger pernah menjabat Ketua Himpunan Insan Pers Independen (HIPI) 2005–2010 dan resmi menjadi anggota PWI sejak 2020. Ia telah mengikuti UKW dan berada pada jenjang Wartawan Muda.
*Prestasi dan Penghargaan**
Selama menjalani karier jurnalistik, saya telah menerima beberapa bentuk apresiasi, antara lain:
1. Penghargaan Jurnalistik yang diberikan oleh Pemkab. Padang Pariaman, 24 Desember 2003
2. Penghargaan Jurnalistik dari USAID dalam program LGSP, 23 September 2006
3. Penghargaan Jurnalistik dari USAID dalam program LGSP, 06 April 2007
4. Penghargaan Peran Jurnalistik Dalam Penanggunan Bencana dari BPBD Sumatera Barat, 14 Januari 2012
5. Penghargaan Jurnalistik dari Disnakertrans Provinsi Sumbar, 24 November 2017
6. Penghargaan Jurnalistik Konten Kreatif dari Kominfo Perekonomian dan Maritim, 5 Desember 2019
7. Penghargaan dari Safari Jurnalistik yang diselengarakan oleh PWI Pusat, 17 Oktober 2021 dengan Tema “Masa Depan Free To Air Di Era Digital dan 5G
8. Nominasi Karya Jurnalistik dari pemerintah Kota Pariaman perayaan Pesta Tabuik tahun 2022
9. Penghargaan dari lembaga survei penilaian Integritas oleh Direktorat Monitoring KPK, Tahun 2024
*Keluarga, Rumah, dan Keseimbangan Hidup**
Ia menikah dan dikaruniai tiga orang anak. Keluarga adalah sumber kekuatan utama dalam menjalani profesi penuh tekanan ini
*Pers, Integritas, dan Masa Depan**
Bagi Syafrial Suger, pers yang kuat adalah pers yang berintegritas. Selama masih diberi kesempatan, ia akan terus menulis, belajar, dan mengabdi. (*)
